Seputar Banten

Kota Serang

Wisata Banten

Terbaru!

Kapolres Cilegon: Tak Ada Komplotan Teroris yang..

3/24/2017 Add Comment

Seputar BantenKapolres Cilegon AKBP Raden Romdhon Natakusuma memastikan kondisi Kota Cilegon tetap kondusif. Tidak terpengaruh dengan adanya penangkapan teduga teroris di Kecamatan Ciwandan pada Kamis (23/3) kemarin.
Kendati demikian, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat agar turut serta meningkatkan kesiapsiagaan bilamana ditemui sesuatu yang mencurigakan.
“Alhamdulilah setelah maupun sebelum penangkapan terduga teroris Kota Cilegon kondusif. Jadi tidak ada warga Cilegon yang menjadi pelaku yang ditangkap. Mereka semua warga kota lain yang ditangkap di Cilegon,” ujar Romdhon, Jumat (24/3).
Romdhon menegaskan, tidak ada komplotan teroris yang tersisa maupun bersembunyi di Kota Cilegon. “Tidak ada kegiatan operasi yang ditingkatkan. Semua sama. Kita hanya meningkatkan kegiatan kepolisian. Seperti patroli dan pemeriksaan kendaraan,” katanya.
Kepada ketua RT, RW, dan lurah di Kota Cilegon, Romdhon menekankan agar melaporkan setiap ada warga pendatang baru selama 1×24 jam. “Itu sudah budaya dan rutin dilakukan. Bukan hanya kali ini saja, tapi sudah rutin dilakukan,” ucapnya.
Anggota polisi yang kemarin mengawal para pelaku dan sejumlah barang bukti, seperti dua unit minibus dan senjata api yang dipakai oleh terduga teroris, saat ini sudah kembali ke Mapolres Cilegon dari Mabes Polri. “Karena membutuhkan kecepatan, jadi kita kawal. Tadi malam sudah (kembali ke Mapolres Cilegon). Barang bukti juga sudah dibawa semua,” tuturnya. (Radar Banten)

Calon 'titipan' Bakal Di Coret

3/24/2017 Add Comment

Berita Nasional- Sistem seleksi penerimaan anggota Polri terus diperbaiki. Yang terbaru, Korps Bhayangkara menerapkan surat pernyataan untuk tidak melakukan kolusi pada pendaftar. Bila, ternyata ada calon polisi itu dititipkan seseorang, maka akan dilakukan diskualifikasi.

Asisten Sumber Daya Manusia (ASDM) Kapolri Irjen Arief Sulistyanto menjelaskan, kemungkinan penyimpangan dalam seleksi anggota Polri itu bisa dari berbagai pihak, internal dan eksternal.
Seperti, personel, keluarga calon polisi dan pihak lain. ”Kondisi itu membuat perlunya perbaikan sistem,” paparnya. Karena itu, dalam seleksi kali ini dilakukan pakta integritas untuk setiap calon polisi tersebut. Dalam pakta integritas tersebut ada poin yang menyebutkan siap untuk didiskualifikasi.
”Kalau ternyata ada anggota polisi yang kemudian menelepon Kapolda atau Karo SDM, anak ini bisa langsung didiskualifikasi,” tuturnya. Sementara untuk para tester atau personel yang terlibat dalam seleksi dilakukan sumpah untuk tidak melakukan korupsi dan kolusi dalam seleksi tersebut.
”Saya merasa ini sangat efektif, di Polda dulu korupsi kolusi langsung menurun,” ujarnya.
Dia menuturkan, sumpah untuk personel yang melakukan seleksi itu merupakan upaya untuk menghadirkan Tuhan dalam seleksi tersebut. Sehingga, niat jahat kemudian bisa dieliminir.
”Ada yang protes, karena dulu sudah disumpah saat awal jadi Polisi. Tapi, saya minta harus ikut sumpah lagi,” terangnya.
Sementara Komisioner Kompolnas Bekto Suprapto menuturkan, upaya pihak lain untuk menitipkan seseorang untuk masuk menjadi anggota Polri itu memang banyak terjadi. ”Ada yang dari internal sendiri dan dari lainnya,” tuturnya.
Hal tersebut harus ditolak karena mempertaruhkan Polri. Sebab, anak-anak ini merupakan calon petinggi Polri masa depan. ”Kalau seleksinya tidak baik, tentu akan berpengaruh,” ujarnya.
Sementara Pakar Komunikasi Effendy Ghazali menjelaskan bahwa setelah berkomunikasi dengan Kompolnas, ternyata ada kejadian ironis.
Yakni, ada yang berupaya untuk titip pada Kompolnas. ”Ini ironis ya, ibaratnya Kompolnas itu Polisi Militernya, tapi dipaksa untuk melanggar aturan,” ujarnya.
Menurutnya, yang melakukan upaya titip orang untuk masuk seleksi Polri itu berada di sekitar senayan.
Kondisi tersebut tentunya harus diubah. ”Jangan sampai ini mengorbankan Polri,” paparnya. (JPNN)

Bocoran USBN Rp. 10 Juta?

3/24/2017 Add Comment

Seputar BantenKementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sempat menyebut bahwa bocoran soal ujian sekolah berstandar nasional (USBN) adalah hoax atau palsu. Pernyataan itu berlawanan dengan laporan dari sejumlah pihak. Bahwa memang telah terjadi kebocoran dalam penyelenggaraan ujian yang baru digelar perdana ini.

Informasi bocornya soal USBN yang terbaru disampaikan oleh Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). Sekjen FSGI Retno Listyarti menuturkan mereka menerima sejumlah laporan terkait kasus kebocoran soal USBN 2017. Laporan kebocoran soal USBN itu diantaranya dari Pekanbaru, Medan, Indramayu, Kudus dan Pati, Jakarta, serta Nusa Tenggara Barat.

Diantara laporan yang masuk menyebutkan bahwa bocornya soal USBN dimulai dari bimbingan belajar (bimbel) berinisial Q dan IS. Presidium FSGI Wilayah Jakarta Heru Purnomo menuturkan, bocoran soal USBN di bimbel itu dijual sampai Rp 10 juta. ’’Terdiri dari enam paket kunci jawaban,’’ katanya kemarin (23/3).

Harga bocoran itu memang terlihat cukup mahal. Tetapi pada praktiknya siswa cukup iuran antara Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu untuk mendapatkan kunci jawaban. Kemudian kuci jawaban dikirim ke siswa pada 19 Maret atau H-1 dimulainya USBN jenjang SMA dan SMK.

Heru menuturkan modus penyebaran kunci jawaban USBN sama dengan unas. Yakni kunci jawaban dikirim melalui aplikasi WharsApp (WA) atau Line. ’’Bedanya kalau USBN disebar H-1 ujian. Sementara kalau unas disebar pada hari H,’’ tuturnya.

Terkait dengan dugaan bahwa yang membocorkan soal USBN adalah guru, menurut FSGI sangat kecil peluangnya. Sebab jika guru memang berniat membocorkan soal ujian, tidak hanya untuk USBN saja. Tetapi juga bocor saat digelar ujian sekolah (US). Namun nyatanya yang terjadi kebocoran hanya pada USBN saja.

Sekjen FSGI Retno Listyarti mengatakan ada beberapa alasan siswa berupaya dengan segala cara untuk mendapatkan nilai USBN yang tinggi. Diantaranya adalah nilai USBN nantinya akan dicetak bersamaan dengan ijazah. Semua siswa tentu ingin mendapatkan nilai USBN yang tinggi di dalam ijazahnya. Supaya bisa mudah mencari kerja atau diterima di perguruan tinggi favorit.

Dia memprediksi tahun ini konsentrasi potensi kebocoran soal ujian justru pada USBN. Sayangnya ini tidak diantisipasi oleh Kemendikbud. Mereka lebih fokus mengamankan unas yang mulai digelar awal April nanti. Kementerian yang dipimpin Muhadjir Effendy itu mengira USBN, layaknya ujian sekolah pada umumnya, berlangsung lebih tertib. Apalagi 75 persen butir soal ujiannya dibuat oleh guru.

Mendikbud Muhadjir Effendy akhirnya mengakui memang masih banyak kelemahan dalam USBN 2017. ’’Karena USBN baru pertama kali dilaksanakan. Apalagi penyelenggara haru berbagi konsentrasi antara USBN dengan unas,’’ katanya kemarin (23/3). Muhadjir mengatakan semua masalah yang terjadi akan didata untuk bahan penyempurnaan penyelenggaraan USBN ke depan.

Muhadjir mengatakan mulai sekarang praktek-praktek tidak terpuji dalam penyelenggaraan ujian harus dikikis habis dari sekolah. Dia mengatakan upaya ini merupakan bagian dari gerakan revolusi mental di sektor pendidikan. ’’Saya akui ini tidak mudah,’’ tuturnya. Namun mantan rektor Univ. Muhammadiyah Malang itu mengatakan, selama ada tekad dan kemauan bersama, upaya itu bisa dilakukan.

Dia menjelaskan saat menggelar inspeksi USBN di Malang rabu lalu (22/3) ujian berlangsung lancar dan bagus. Memang masih ada kekurangan dalam pelaksanaannya. Seperti guru yang mengawasi tidak disilang dengan guru dari sekolah lainnya. Muhadjir justru mengapresiasi upaya Pemda Mempawah, Kalimantan Barat, yang mengatur pengawas USBN dengan sistem silang dengan sekolah lain. (Banten Raya/Red)

Diduga di "sodomi' Puluhan Anak di Pandeglang

3/24/2017 Add Comment
Ilustrasi.

Seputar Banten- Puluhan anak di Desa Sukaraja, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pandeglang diduga menjadi korban sodomi yang dilakukan salah seorang oknum warga. Sayangnya, sampai saat ini kejadian tersebut belum dilaporkan ke pihak yang berwajib karena tidak ada pelaku atau warga yang berani karena diintimidasi.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Pandeglang Adharudin mengungkapkan bahwa pihaknya tengah melakukan pendampingan terhadap korban sodomi di Desa Sukaraja tersebut. “Hasil dari penelusuran yang kami lakukan ada sekitar 50 anak lebih yang menjadi korban sodomi. Namun kami kesulitan karena para korban enggan melaporkan karena di bawah tekanan pelaku, karena pelaku dikenal warga sebagai jawara,” katanya.

Saat ini pihaknya sudah mendapatkan satu orang yang siap bersaksi sehingga akan segera melakukan pendampingan kepada korban tersebut. "Sebab, hasil kordinasi dari aparat kepolisian tindakan akan dilakukan apabila ada laporan dari korban.

Yang mau menjadi saksi ini memang tidak terlalu parah, tetapi yang jelas sudah terjadi tidakan sodomi kepada korban. Mudah-mudahan dengan adanya yang akan melaporkan tersebut, korban lainnya akan berlaku sama,” ujarnya.

Salah seorang warga Desa Sukaraja yang enggan disebutkan namanya mengatakan, sodomi yang menimpa anak-anak di kampungnya tersebut sudah lama terjadi dan tidak ada korban yang berani melapor. “Anak yang menjadi korban sodomi itu sudah terjadi sejak satu tahun lalu dan korbannya juga seeur (banyak-red) Pak sampai puluhan. Kalau untuk usianya itu biasa masih ABG,” katanya, Kamis (23/3).

Menurut sumber ini, kebanyakan yang menjadi korban sodomi rata-rata masih sekolah. Salah satunya di Kampung Keleng dan Kaduhejo. Akan tetapi, ketika didesak siapa pelakunya pihaknya tidak ingin memberi tahukannya. “Coba saja bapak lihat ke sekolah itu. Kalau pelakunya saya juga tidak tahu, namun memang masih orang sini juga,” katanya.

Kapolres Pandeglang AKBP Ary Satriyan sudah mendengar kabar tersebut. Ia mengaku sudah menginstruksikan anggotanya untuk turun ke lapangan mencari tahu kebenaran peristiwa bejat itu. “Saya sudah instruksikan anggota untuk turun ke lokasi melakukan penyelidikan. Namun sebetulnya kasus itu (sodomi-red) adalah delik aduan, tetapi kami harap ada korban maupun warga yang bersedia melapor kepada kami,” tegasnya.

Banten Raya mencoba menelusuri kebenaran kasus itu ke kantor Desa Sukaraja. Sayang tidak ada aparatur desa mau buka mulut. benar. “Isu sodomi di desa kami itu tidak ada dan tidak benar pak,” kata seorang petugas desa. (Banten Raya/Red)

Tabrak Mobil Densus, Teroris Ditembak

3/24/2017 Add Comment

Seputar Banten- Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri menyergap lima orang terduga teroris di dua lokasi berbeda, Kamis (23/3). Empat terduga teroris disergap di Jalan Raya Anyer-Cilegon, tepatnya di depan pabrik Semen Merah Putih, Kelurahan Kepuh, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon.

Sedangkan satu lagi ditangkap di Jalan Raya Labuan (depan Mesjid Assa’Adah), Kampung Cikanas, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang. Dalam penyergapan di Cilegon, satu terduga teroris tewas ditembak petugas setelah mencoba melawan petugas. 

Empat terduga teroris yang ditangkap di Cilegon yakni Nanang Kosim, Ojid Abdul Majid, Achmad Supriyanto, dan Icuk Pamulang. Nanang Kosim tewas karena luka tembak di kepala dan dadanya, sedangkan Ojid Abdul Majid tertembak di tangan. 

Dari informasi yang dihimpun di lokasi kejadian, keempat terduga teroris tersebut menggunakan dua minibus Avanza dari arah Anyer, Kabupaten Serang menuju Cilegon. Satu mobil ditumpangi Nanang Kosim, dan Ojid Abdul Majid, dan satu lagi berisi Achmad Supriyanto, dan Icuk Pamulang. 

Ternyata, kedua mobil tersebut sejak awal sudah diintai oleh Densus 88. Di depan pabrik Semen Merah Putih, petugas langsung menyergap dengan cara memotong jalan ketika mobil yang ditumpangi terduga teroris melambat. Ada 20 orang bersenjata lengkap dengan menggunakan tujuh kendaraan roda empat yang menyergap mobil terduga teroris.

Ketika disergap, satu kendaraan yang ditumpangi terduga teroris berusaha melarikan diri ke arah Jalan Lingkar Selatan (JLS). Satu kendaraan lagi yang ditumpang Nanang Kosim dan Ojid Abdul Majid yakni Avanza B 1479 KKA mencoba melawan dengan menembaki dan menabrak petugas. 

Dalam penangkapan tersebut, Densus 88 mengamankan satu pucuk senjata api jenis colt 45 dari tangan Nanang, serta sebuah tas hitam yang tidak diketahui isi didalamnya.Sampai kemarin petang, Toyota Avanza warna hitam bernomor B 1479 KKA diamankan sementara di area Pabrik Semen Merah Putih. Bagian pintu sopir dan kaca depan tampak terkena peluru milik Densus 88. Sementara itu, petugas kepolisian dan TNI tampak bersiaga di lokasi penangkapan. 

Yuvi Heta, salah seorang saksi mata mengaku kaget dengan kejadian tersebut. Yuvi awalnya menduga keributan di depan Pabrik Semen Merah Putih adalah tawuran pelajar. Setelah didekati, ternyata petugas polisi sedang baku tembak dengan terduga teroris."Saya kira suara petasan dan tawuran pelajar. Taunya itu suara tembakan," katanya.

Yuvi melihat dua mobil yang dikejar oleh densus 88 dari arah Anyer. Dari dua kendaraan itu, satu kendaraan melaju arah JLS, dan satu kendaraan ke arah Cilegon. "Yang ke arah Cilegon habis ditembak polisi. Didalamnya ada dua orang, sopirnya meninggal kena tembak di bagian kepalanya," ujarnya.

Kapolda Banten Brigjen Pol Listyo Sigit Prabowo langsung meninjau lokasi kejadian. Namun ia enggan memberikan keterangan. "Kabarnya begitu, jumlahnya lebih dari 1, tapi nanti saja, tunggu rilis dari Mabes Polri," katanya singkat.

Terpisah, Kapolres Pandeglang AKBP Ary Satriyan mengungkapkan, penangkapan di Pandeglang dilakukan pukul 08.10 WIB di Jalan Raya Labuan, Kampung Cikanas, Kecamatan Menes.Terduga teroris yang diamankan itu berinisial MI, warga Kampung Kadu Kombong RW.03 Kecamatan Menes. “Keterlibatannya diduga pendanaan untuk kelompok Suryadi Masud, yang diduga untuk pembelian senjata api atau pelatihan militer di Filipina,” ujar Ary.

Bersama terduga teroris, polisi mengamankan satu unit sepeda motor Yamaha Mio J nopol A 2449 MF, helm Honda hitam, dan keranjang jualan susu. “Tindak lanjut, terduga teroris diamankan di safe house. Dilakukan interogasi kepada terduga teroris. Kemudian melakukan penggeledahan,” ungkapnya. (Banten Raya)